Sabtu, 21 Maret 2015

Pengertian Sensor

Secara umum sensor adalah komponen yang dapat digunakan untuk mengkonversi suatu besaran tertentu menjadi satuan analog sehingga dapat dibaca oleh suatu rangkaian elektronik. Jadi sensor merupakan peralatan yang digunakan untuk merubah suatu besaran fisik menjadi besaran listrik sehingga dapat dianalisa dengan rangkaian listrik tertentu. Sensor biasa digunakan untuk mengukur magnitude sesuatu. Sensor merupakan jenis transducer yang digunakan untuk mengubah variasi mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan / arus listrik. Sensor dikategorikan melalui pengukur dan memegang peranan penting dalam pengendalian proses pabrikasi modern. Sensor memberikan ekivalen mata, pendengaran, hidung, lidah untuk menjadi otak mikroprosesor dari system otomatisasi industri.

Klasifikasi Sensor
            Secara umum berdasarkan fungsi dan penggunaannya sensor dapat dikelompokan menjadi 3 bagian yaitu:
a.         sensor thermal (panas) :
b.        sensor mekanis
c.         sensor optik (cahaya)
Sensor thermal adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi gejala perubahan panas/temperature/suhu pada suatu dimensi benda atau dimensi ruang tertentu.
Contohnya; bimetal, termistor, termokopel, RTD, photo transistor, photo dioda, photo multiplier, photovoltaik, infrared pyrometer, hygrometer, dsb.
Sensor mekanis adalah sensor yang mendeteksi perubahan gerak mekanis, seperti perpindahan atau pergeseran atau posisi, gerak lurus dan melingkar, tekanan, aliran, level dsb.
Contoh;  strain gage, linear variable deferential transformer (LVDT), proximity, potensiometer, load cell, bourdon tube,dsb.
Sensor optic atau cahaya adalah sensor yang mendeteksi perubahan cahaya dari sumber cahaya, pantulan cahaya ataupun bias cahaya yang mengernai benda atau ruangan.
Contoh;  photo cell, photo transistor, photo diode, photo voltaic, photo multiplier, pyrometer optic, dsb.

Berikut adalah beberapa jenis sensor yang dapat dijumpai di lapangan :
1.1.  Sensor proximity
Sensor  proximity  merupakan  sensor  atau  saklar  yang dapat  mendeteksi  adanya   target jenis   logam  dengan   tanpa   adanya   kontak   fisik.  Biasanya   sensor   ini   tediri   dari   alat elektronis   solid-state  yang   terbungkus   rapat  untuk melindungi  dari  pengaruh getaran, cairan, kimiawi, dan korosif yang berlebihan. Sensor proximity dapat diaplikasikan pada kondisi   penginderaan   pada   objek   yang   dianggap   terlalu   kecil   atau   lunak   untuk menggerakkan suatu mekanis saklar.
1.2 Sensor Magnet
Sensor Magnet atau disebut juga relai buluh, adalah alat yang akan terpengaruh medan magnet dan akan memberikan perubahan kondisi pada keluaran. Seperti layaknya saklar dua kondisi (on/off) yang digerakkan oleh adanya medan magnet di sekitarnya. Biasanya sensor ini dikemas dalam bentuk kemasan yang hampa dan bebas dari debu, kelembapan, asap ataupun uap.
1.3. Sensor Sinar
Sensor  sinar   terdiri  dari  3 kategori.  Fotovoltaic  atau sel  solar  adalah alat  sensor  sinar yang mengubah energi sinar langsung menjadi energi listrik, dengan adanya penyinaran cahaya akan menyebabkan pergerakan elektron dan menghasilkan  tegangan.  Demikian pula   dengan   Fotokonduktif   (fotoresistif)   yang   akan  memberikan   perubahan   tahanan (resistansi)  pada  sel-selnya,   semakin  tinggi   intensitas  cahaya  yang  terima,  maka akan semakin kecil pula nilai tahanannya. Sedangkan Fotolistrik adalah sensor yang berprinsip kerja berdasarkan pantulan karena perubahan posisi/jarak suatu sumber sinar (inframerah atau  laser)  ataupun  target  pemantulnya,  yang  terdiri  dari  pasangan sumber  cahaya dan penerima.
1.4. Sensor Ultrasonik
Sensor ultrasonik bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara, dimana sensor ini  menghasilkan   gelombang   suara   yang   kemudian  menangkapnya   kembali   dengan perbedaan waktu  sebagai  dasar  penginderaannya.  Perbedaan waktu  antara  gelombang suara   dipancarkan   dengan   ditangkapnya   kembali   gelombang   suara   tersebut   adalah berbanding lurus dengan jarak atau tinggi objek yang memantulkannya. Jenis objek yang dapat diindera diantaranya adalah: objek padat, cair, butiran maupun tekstil.
1.5. Sensor Tekanan
Sensor   tekanan   –   sensor   ini  memiliki   transduser   yang  mengukur   ketegangan   kawat, dimana mengubah tegangan mekanis menjadi sinyal listrik. Dasar penginderaannya pada perubahan  tahanan pengantar  (transduser) yang berubah akibat  perubahan panjang dan luas penampangnya. Strain gage adalah sebuah contoh transduser pasif yang mengubah pergeseran mekanis menjadi   perubahan   tahanan.  Sensitivitas   sebuah   strain   gage   dijelaskan   dengan   suatu karakteristik   yang   disebut   factor   gage   (factor   gage),  K,   yang   didefinisikan   sebagai perubahan satuan tahanan dibagi dengan perubahan satuan panjang.
Untitled

Perubahan tahanan R pada sebuah konduktor yang penjangnya l dapat dihitung dengan menggunakan persamaan bagi tahanan dari sebuah konduktor yang penampangnya serba sama, yaitu:
Untitled
1.6. Sensor Kecepatan (RPM)
Proses  penginderaan  sensor  kecepatan  merupakan proses  kebalikan dari   suatu motor,dimana suatu poros/object yang berputar pada suatui generator akan menghasilkan suatutegangan yang sebanding dengan kecepatan putaran object. Kecepatan putar sering puladiukur  dengan  menggunakan   sensor   yang  mengindera  pulsa  magnetis   (induksi)   yangtimbul saat medan magnetis terjadi.
1.7. Sensor Penyandi (Encoder)
Sensor   Penyandi   (Encoder)   digunakan   untuk  mengubah   gerakan  linear  atau   putaran menjadi  sinyal  digital,  dimana sensor putaran memonitor gerakan putar dari  suatu alat. Sensor  ini  biasanya  terdiri  dari  2  lapis  jenis penyandi,  yaitu;  Pertama,  Penyandi  rotari tambahan   (yang   mentransmisikan   jumlah   tertentu   dari   pulsa   untuk   masing-masing putaran) yang akan membangkitkan gelombang kotak pada objek yang diputar. Kedua, Penyandi   absolut   (yang  memperlengkapi   kode  binary  tertentu   untuk  masing-masing posisi sudut) mempunyai  cara kerja sang sama dengan perkecualian,  lebih banyak atau lebih   rapat   pulsa   gelombang   kotak   yang   dihasilkan   sehingga   membentuk   suatu pengkodean   dalam   susunan   tertentu.

1.8. Sensor Suhu
Terdapat 4 jenis utama sensor suhu yang umum digunakan, yaitu thermocouple (T/C)- lihat gambar 1.6, resistance temperature detector (RTD), termistor dan IC sensor. Thermocouple pada intinya terdiri dari sepasang transduser panas dan dingin yang disambungkan dan dilebur bersama, dimana terdapat perbedaan yang timbul antara sambungan tersebut dengan sambungan referensi yang berfungsi sebagai pembanding. Resistance Temperature Detector (RTD) memiliki prinsip dasar pada tahanan listrik dari logam yang bervariasi sebanding dengan suhu. Kesebandingan variasi ini adalah presisi dengan tingkat konsisten/kestabilan yang tinggi pada pendeteksian tahanan. Platina adalah bahan yang sering digunakan karena memiliki tahanan suhu, kelinearan, stabilitas dan reproduksibilitas. Termistor adalah resistor yang peka terhadap panas yang biasanya mempunyai koefisien suhu negatif, karena saat suhu meningkat maka tahanan menurun atau sebaliknya. Jenis ini sangat peka dengan perubahan tahan 5% per C sehingga mampu mendeteksi perubahan suhu yang kecil. Sedangkan IC Sensor adalah sensor suhu dengan rangkaian terpadu yang menggunakan chipsilikon untuk kelemahan penginderanya. Mempunyai konfigurasi output tegangan dan arus yang sangat linear.

Light Dependent Resistant ( LDR )
·         Resistor yang LDR tersusun atas bahan semikonduktor dan memiliki karakteristik nilai tahanan tergantung dengan intensitas cahaya yang diterimanya.
·         Semakin tinggi intensitas cahaya yang mengenai LDR, resitansinya semakin mengecil, begitu pula sebaliknya.
http://mcafif.files.wordpress.com/2008/06/gambar-rangkaian-sensor-dengan-menngunakan-ldr1.jpg?w=260&h=258
Gambar Rangkaian SENSOR dengan menngunakan LDR.
Photodioda
·         Komponen ini akan mengubah energi cahaya, dalam hal ini energi cahaya infra red memjadi sinyal listrik ( dalam hal ini arus listrik ).
·         Merupakan sambungan dioda PN yang memiliki kepekaan terhadap radiasi gelombang Elektromagnetik (EM) ketika jatuh pada sambungan.
·         Dikarenakan sambungan PN sangatlah kecil, dibutuhkan lensa untuk memfokuskan radiasi yang datang agar mendapatkan respon yang baik.
·         Keunggulan device ini adalah nilai waktu responnya sangatlah cepat. Kebanyakan memiliki waktu respon mendekati 1 Mikrodetik, bahkan ada yang mendekati 1 nano detik.
·         Semakin tinggi intensitas cahaya, maka arus bocor pada sambungan PN semakin besar sehingga arus yang lewat sambungan semakin kecil
http://mcafif.files.wordpress.com/2008/06/gambar-rangkaian-sensor-dengan-menggunakan-photodioda.jpg?w=276&h=268
Gambar rangkaian SENSOR dengan menggunakan PHOTODIODA


Sumber:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mencari sesuatu?

Silahkan ketik kata kunci yang ingin anda cari dalam blog ini