Senin, 02 Maret 2015

You're My Home


Malam yang sunyi, langit dipenuhi awan hitam. Jalanan yang tampak lengang, hujan mengguyur dengan derasnya. Petir yang menyambar-nyambar membuat suasana terasa lebih mencekam.
Seorang gadis berjalan tertatih-tatih menuju rumahnya dengan memegang tas slempangnya erat-erat. Ia nampak kedinginan, tubuh kecilnya mulai menggigil dan bibirnya mulai memucat. Langkahnya yang tertatih-tatih itu berhenti di depan rumah joglo yang sangat megah. Beberapa kali ia mengetuk pintu, akhirnya keluarlah seorang wanita setengah baya.

“Neng, baru pulang?”
“I..Iya mbok.”
“Aduh neng, kenapa hujan-hujanan begini? Kan bisa nelpon Mang Diman suruh jemput neng di kampus.”
“Nggak pa pa kok mbok. Aliya tadi lupa bawa handphone, jadi nggak bisa nelpon Mang Diman. Aliya masuk dulu ya mbok.”
“Kalo gitu, mbok siapin air hangatnya dulu ya neng.”
“Iya mbok makasih.”

“Mbok, Om sama Tante belum pulang?” Aliya berjalan menuju dapur
“Belum neng, Tuan sama Nyonya masih di Singapura. Tadi katanya mau pulang besok lusa neng.” Sambil bersihin meja makan
“Oh gitu ya mbok, kalo kak Reza? Dia nggak kabur lagi kan mbok?”
“Nggak neng. Tadi Non Via sempet pulang, jadi dari tadi di kamar di tungguin Non Via”
“Kak Via? Terus sekarang orangnya dimana mbok?”
“Ya udah balik lagi ke Surabaya neng. Tadi ke sini sebentar cuma mau ambil barangnya yang ketinggalan katanya.”
“Oh, gitu. Kesini nggak sama suaminya mbok?” Aliya duduk di meja makan sambil meletakkan kepalanya di meja.
“Nggak neng. Non Via bilang suaminya sibuk jadi milih kesini sendiri.”
“Eh gtu.. mbok”
“Nih neng coklat hangatnya di minum dulu.”
“Ada obat sakit kepala nggak mbok?”
“Kayaknya habis deh neng.”

Aliya mulai turun dari mobil dan masuk ke sebuah apotik. Obat pusing di rumahnya sudah habis, jadi mau nggak mau Aliya harus keluar beli obatnya.
“Mbak, ada obat pusing nggak?”
“Ada mbak, mau beli berapa?”
“Satu kardus aja mbak. Sama obat tidur juga ya mbak.”
“Tunggu sebentar ya mbak.”
“Ini mbak. Semuanya 60.000”
“Makasih mbak.”
Seseorang diam-diam memperhatikannya dari sudut Apotik.
Gelang itu, sepertinya aku mengenalnya. Itu terlihat seperti...... gelang yang aku berikan pada gadis kecil yang waktu itu..
Setelah menyadari hal itu, pemuda itu bergegas keluar untuk memastikan apa yang dilihatnya tadi. Namun, mobil yang di tumpangi Aliya telah melaju cepat meninggalkan Apotik itu.
Ah mungkin aku salah lihat, gumam pemuda itu kembali ke dalam Apotik.

Setelah meminum obatnya Aliya menyempatkan diri untuk melihat kakaknya. Kamar dengan wallpaper One Piece ini terlihat sunyi. Pemiliknya kini tengah berada di atas tempat tidurnya dengan memainkan PSP ditangannya.
“Kakak...” Aliya masuk ke kamar kakaknya. Setiap melihat kakaknya, ia selalu ingin menangis. Tapi demi kakaknya agar tidak sedih, dia selalu tersenyum untuk kakaknya.
Dua bulan setelah kecelakaan yang menimpa kakaknya 2 tahun lalu membuat kakaknya terkena penyakit Alzeimer.  Penyakit itu membuat kakaknya terkadang lupa siapa dirinya sendiri. Kakaknya pun sekarang sudah sangat kesulitan mengingat jalan yang sering dilaluinya sekalipun. Semua itu membuat Aliya benar-benar terpukul melihat kakak yang sangat ia sayangi menderita seperti itu.
“Hemmm”
“Kakak nggak tidur?” Aliya duduk di tepi ranjang.
“Al, kakak punya sesuatu buat kamu.”
“Hem?? Apa itu kak?” Aliya mengernyit bingung
Reza mengeluarkan album foto dari dalam laci meja dekat tempat tidurnya.
“Ini..”
“Album foto? Buat apa kak?”
“Ini.. isilah dengan foto keluarga kita. Supaya kalo kakak lupa, setelah melihat ini kakak bisa ingat kembali.”
TESSSSSSS
Aliya langsung memeluk kakaknya erat supaya kakaknya tidak melihat air matanya. Air mata yang sedari tadi di tahannya kini mengalir dengan derasnya.
“Aliya, kamu menangis?”
Aliya tidak menjawab, dia masih mencoba menetralkan sesak di dadanya. Reza pun menepuk-nepuk punggung adik keayangannya itu.
“Al, kamu nggak boleh cengeng gini. Bukankah dari dulu kakak sudah bilang kalo kakak nggak suka adik kakak yang cantik ini cengeng?”
Aliya pun melepaskan pelukannya.
“Kakak yang buat Aliya menangis. Aliya takut kehilangan kakak, Aliya sayang sama kakak.”
“Kakak juga tau itu sayang. Udah ah jangan nangis lagi. Cantiknya luntur nanti kena air mata kamu.” Reza pun mengusap air mata adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
“Huh, kakak ada-ada aja.”
“Oh ya kak, aku juga punya sesuatu lho buat kakak. Sebentar ya, aku ambil di kamar.”
>>SKIP TIME<<
“Ini dia..” Sambil menyodorkan sebuah buku ke Reza
“Buku diary.. Buat apa?”
“Aku ingin kakak nulis di buku ini. Pokoknya semua yang ada di benak kakak harus di tulis di sini.”
“Em.. baiklah. Demi adik kakak yang paling cantik sedunia, kakak akan nulis di sini deh.”
“Makasih kakak.. Nah, kakak tidur gih. Aku juga udah ngantuk. Selamat malam kakak.” Ucap Aliya sebelum mengecup pipi kakaknya
“Dasar anak nakal.”
“Hihihi.. Aku sayang kakak..” ucapnya langsung menutup pintu kamar kakaknya.
Kamu tidak boleh menjadi gadis cengeng Aliya. Kamu harus jadi gadis yang kuat, sekalipun kelak kakak meninggalkanmu.... Kamu harus bisa bertahan sampai akhir demi orang-orang yang mencintaimu.. Kakak mencintaimu, adik kecilku..

20 Mei 2009
Tiap kali melihat kakak, hatiku sakit dan dadaku benar-benar sesak. Selama ini aku menggantungkan hidupku pada kakakku satu-satunya. Dan sekarang, Dokter telah memvonisnya terkena Alzeimer. Ya Allah.. mengapa begitu berat ujian dari-Mu? Aku masih bisa menerima perceraian orangtuaku, aku masih bisa menerima Engkau mengambil ibuku. Tapi jika Engkau juga mengambil kakakku.. Bisakah aku kuat ya Allah?? Ya Allah, berilah hambamu ini kekuatan lahir maupun batin untuk bisa menerima semua kehendak-Mu

Pagi itu langit terlihat begitu cerah. Aliya tengah bersiap-siap berangkat ke kampusnya yang berjarak 2km dari rumahnya. Ia menyempatkan diri melihat kakaknya sebentar sebelum pergi.
“Selamat Pagi kakak..” sapanya pada Reza yang tengah berdiri menghadap jendela.
“Pagi juga, Aliya. Kamu mau berangkat?”
“He’em. Kakak liat apa?” berdiri mensejajari kakaknya menghadap jendela.
“ Pagi ini sangat cerah, Al. Kakak suka sekali melihat jalanan itu.” Sambil menunjuk jalan raya yang dilalui anak-anak yang lalu lalang berangkat sekolah.
“Ramai..” lanjutnya
“Kakak ingin keluar?” mendengar perkataan Aliya, Reza sontak terkejut.
“Bolehkah?”
“Nanti malam di taman kota ada festival kembang api untuk merayakan hari jadi kota kita. Aku ingin mengajak kakak keluar untuk makan ice cream. Apa kakak mau?”
“Benarkah? Tentu saja aku amat sangat mau sekali.” Reza pun langsung memeluk Aliya.
“Terima kasih, Al. Kakak sayang sekali sama kamu.”
“Aku juga.”
Aliya pun pamit berangkat ke kampus.

“Hai Al.” Sapa seorang pemuda di koridor kampus.
“Ah hai kak Sultan. Ngapain pagi-pagi udah nyampe kampus. Biasanya kok baru jam 9 datang ke kampus.”
“Hah, kamu ngejek apa muji??”
“Hahaha, nggak dua-duanya. Eh, ada apa emang udah berangkat kak?”
“Nggak ada apa-apa. Emang nggak boleh berangkat lebih pagi?”
“Ya boleh-boleh aja sih. Kayaknya nggak enak deh kalo ngobrol sambil berdiri begini. Kita ke kantin aja yuk.”
Akhirnya mereka melanjutkan percakapan sambil berjalan menuju kantin.
“Ya udah deh. Sekalian sarapan kalo gitu?”
“Jadi kesini pagi-pagi belum sarapan?”
“Belum. Hehehe, males sih. Di rumah ada orang nyebelin.”
“Orang nyebelin? Siapa kak?”
“Itu tuh, yang dulu pernah aku ceritain. Anak temen mama aku yang suka sama sepupu aku si Indra.”
“Oh iya iya aku inget. Yang wajahnya kaya gadis jepang itu kan?”
“Yah, sip. Nah itu anak kalo udah liburan ke sini pasti nginep di rumah aku. Dan parahnya dia liburan ke sini itu 2 minggu. Huh, sengsara deh hidup aku.”
“Hahaha, udah deh kak biasa aja. Jangan terlalu di pikirin. Kan masih punya sahabat yang super duper setia ini.”
“Iya iya deh, percaya.”
Mereka pun sampai di kantin. Setelah memesan makanan mereka pun kembali berbincang bincang. Tanpa Aliya sadari sejak tadi Sultan terus memperhatikannya.
Al, seandainya kamu tahu.. Selama 2 tahun terakhir kita bersahabat, aku sudah memendam perasaan ini ke kamu. Sultan terus memperhatikan gadis yang ada di hadapannya, sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Aliya sudah berhenti bercerita dan kini menatap tajam ke arahnya.
“Kak Sultan? Hei hei!!” Aliya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sultan. Namun yang di ajak bicara tetap asik dengan imajinasinya sendiri. Kesal di pandangi terus menerus akhirnya ia mencubit Sultan. Dan yang di cubit langsung berteriak.
“Adawwwwwwwwwwwwwww.....”
Semua orang yang ada di kantin langsung melihat ke arah mereka. Sultan yang tidak merasa bersalah membuat orang terganggu dengan teriakannya itu menutupi malunya langsung kembali berteriak.
“Hei kalian.. ngapain liat-liat? Mata kalian baru ya?”
Mereka yang mendengar perkataan Sultan itu langsung melanjutkan aktivitas masing-masing. Di kampus Sultan memang terkenal sebagai pembuat onar, jadi tidak ada gunanya meladeni kata-kata Sultan itu. Namun berbeda dengan Aliya, sahabat Sultan yang satu itu adalah kebalikannya Sultan. Aliya di kampus di kenal gadis yang ramah, baik, pintar, anggun dan sholehah. Banyak laki-laki yang menyatakan cinta sama dia, tapi banyak pula yang di tolak (dengan cara halus). Alasannya sederhana, karena ia ingin fokus kuliah.
“Kak, udah deh nggak usah cari masalah. Kita kesini itu buat makan, bukan buat cari masalah.”
“Eh, iya iya. Sorry deh. Tapi kenapa tadi aku di cubit? Sakit tau.”
“Idih, lebay deh. Baru di cubit aja sakit. Tapi kalo tonjok-tonjokan kok nggak sakit.”
“Itu sih beda, Al. Kalo itu cowok vs cowok, jadi harus gentle. Kalo sama cewek aku harus yang lembut dong. Hahaha, ya dengan sedikit lebay tadi.”
“Ngeles aja kaya bajaj.”
“Udah dulu ya kak, aku dah di tunggu temen-temen nih.” Aliya pun bergegas kembali ke kelasnya.
“Ya, nanti pulang bareng ya, Al.....” Sultan berteriak pada Aliya
“Siipp” Aliya dari jauh hanya mengangkat jempolnya ke atas.


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mencari sesuatu?

Silahkan ketik kata kunci yang ingin anda cari dalam blog ini