Malam yang sunyi, langit dipenuhi awan hitam. Jalanan yang
tampak lengang, hujan mengguyur dengan derasnya. Petir yang menyambar-nyambar
membuat suasana terasa lebih mencekam.
Seorang gadis berjalan tertatih-tatih menuju rumahnya dengan
memegang tas slempangnya erat-erat. Ia nampak kedinginan, tubuh kecilnya mulai
menggigil dan bibirnya mulai memucat. Langkahnya yang tertatih-tatih itu berhenti
di depan rumah joglo yang sangat megah. Beberapa kali ia mengetuk pintu,
akhirnya keluarlah seorang wanita setengah baya.
“I..Iya mbok.”
“Aduh neng, kenapa hujan-hujanan begini? Kan bisa nelpon Mang
Diman suruh jemput neng di kampus.”
“Nggak pa pa kok mbok. Aliya tadi lupa bawa handphone, jadi
nggak bisa nelpon Mang Diman. Aliya masuk dulu ya mbok.”
“Kalo gitu, mbok siapin air hangatnya dulu ya neng.”
“Iya mbok makasih.”
“Mbok, Om sama Tante belum pulang?” Aliya berjalan menuju
dapur
“Belum neng, Tuan sama Nyonya masih di Singapura. Tadi
katanya mau pulang besok lusa neng.” Sambil bersihin meja makan
“Oh gitu ya mbok, kalo kak Reza? Dia nggak kabur lagi kan
mbok?”
“Nggak neng. Tadi Non Via sempet pulang, jadi dari tadi di
kamar di tungguin Non Via”
“Kak Via? Terus sekarang orangnya dimana mbok?”
“Ya udah balik lagi ke Surabaya neng. Tadi ke sini sebentar
cuma mau ambil barangnya yang ketinggalan katanya.”
“Oh, gitu. Kesini nggak sama suaminya mbok?” Aliya duduk di
meja makan sambil meletakkan kepalanya di meja.
“Nggak neng. Non Via bilang suaminya sibuk jadi milih kesini
sendiri.”
“Eh gtu.. mbok”
“Nih neng coklat hangatnya di minum dulu.”
“Ada obat sakit kepala nggak mbok?”
“Kayaknya habis deh neng.”
Aliya mulai turun dari mobil dan masuk ke sebuah apotik. Obat
pusing di rumahnya sudah habis, jadi mau nggak mau Aliya harus keluar beli
obatnya.
“Mbak, ada obat pusing nggak?”
“Ada mbak, mau beli berapa?”
“Satu kardus aja mbak. Sama obat tidur juga ya mbak.”
“Tunggu sebentar ya mbak.”
“Ini mbak. Semuanya 60.000”
“Makasih mbak.”
Seseorang diam-diam memperhatikannya dari sudut Apotik.
Gelang itu,
sepertinya aku mengenalnya. Itu terlihat seperti...... gelang yang aku berikan
pada gadis kecil yang waktu itu..
Setelah menyadari hal itu, pemuda itu bergegas keluar untuk
memastikan apa yang dilihatnya tadi. Namun, mobil yang di tumpangi Aliya telah
melaju cepat meninggalkan Apotik itu.
Ah mungkin
aku salah lihat, gumam pemuda itu kembali ke dalam Apotik.
Setelah meminum obatnya Aliya menyempatkan diri untuk melihat
kakaknya. Kamar dengan wallpaper One Piece ini terlihat sunyi. Pemiliknya kini
tengah berada di atas tempat tidurnya dengan memainkan PSP ditangannya.
“Kakak...” Aliya masuk ke kamar kakaknya. Setiap melihat
kakaknya, ia selalu ingin menangis. Tapi demi kakaknya agar tidak sedih, dia
selalu tersenyum untuk kakaknya.
Dua bulan setelah kecelakaan yang menimpa kakaknya 2 tahun
lalu membuat kakaknya terkena penyakit Alzeimer. Penyakit itu membuat kakaknya terkadang lupa
siapa dirinya sendiri. Kakaknya pun sekarang sudah sangat kesulitan mengingat
jalan yang sering dilaluinya sekalipun. Semua itu membuat Aliya benar-benar
terpukul melihat kakak yang sangat ia sayangi menderita seperti itu.
“Hemmm”
“Kakak nggak tidur?” Aliya duduk di tepi ranjang.
“Al, kakak punya sesuatu buat kamu.”
“Hem?? Apa itu kak?” Aliya mengernyit bingung
Reza mengeluarkan album foto dari dalam laci meja dekat
tempat tidurnya.
“Ini..”
“Album foto? Buat apa kak?”
“Ini.. isilah dengan foto keluarga kita. Supaya kalo kakak
lupa, setelah melihat ini kakak bisa ingat kembali.”
TESSSSSSS
Aliya langsung memeluk kakaknya erat supaya kakaknya tidak
melihat air matanya. Air mata yang sedari tadi di tahannya kini mengalir dengan
derasnya.
“Aliya, kamu menangis?”
Aliya tidak menjawab, dia masih mencoba menetralkan sesak di
dadanya. Reza pun menepuk-nepuk punggung adik keayangannya itu.
“Al, kamu nggak boleh cengeng gini. Bukankah dari dulu kakak
sudah bilang kalo kakak nggak suka adik kakak yang cantik ini cengeng?”
Aliya pun melepaskan pelukannya.
“Kakak yang buat Aliya menangis. Aliya takut kehilangan
kakak, Aliya sayang sama kakak.”
“Kakak juga tau itu sayang. Udah ah jangan nangis lagi.
Cantiknya luntur nanti kena air mata kamu.” Reza pun mengusap air mata adiknya
itu dengan penuh kasih sayang.
“Huh, kakak ada-ada aja.”
“Oh ya kak, aku juga punya sesuatu lho buat kakak. Sebentar
ya, aku ambil di kamar.”
>>SKIP TIME<<
“Ini dia..” Sambil menyodorkan sebuah buku ke Reza
“Buku diary.. Buat apa?”
“Aku ingin kakak nulis di buku ini. Pokoknya semua yang ada
di benak kakak harus di tulis di sini.”
“Em.. baiklah. Demi adik kakak yang paling cantik sedunia,
kakak akan nulis di sini deh.”
“Makasih kakak.. Nah, kakak tidur gih. Aku juga udah ngantuk.
Selamat malam kakak.” Ucap Aliya sebelum mengecup pipi kakaknya
“Dasar anak nakal.”
“Hihihi.. Aku sayang kakak..” ucapnya langsung menutup pintu
kamar kakaknya.
Kamu tidak
boleh menjadi gadis cengeng Aliya. Kamu harus jadi gadis yang kuat, sekalipun
kelak kakak meninggalkanmu.... Kamu harus bisa bertahan sampai akhir demi orang-orang
yang mencintaimu.. Kakak mencintaimu, adik kecilku..
20 Mei 2009
Tiap kali melihat kakak, hatiku sakit dan dadaku benar-benar
sesak. Selama ini aku menggantungkan hidupku pada kakakku satu-satunya. Dan
sekarang, Dokter telah memvonisnya terkena Alzeimer. Ya Allah.. mengapa begitu
berat ujian dari-Mu? Aku masih bisa menerima perceraian orangtuaku, aku masih
bisa menerima Engkau mengambil ibuku. Tapi jika Engkau juga mengambil kakakku..
Bisakah aku kuat ya Allah?? Ya Allah, berilah hambamu ini kekuatan lahir maupun
batin untuk bisa menerima semua kehendak-Mu
Pagi itu langit terlihat begitu cerah. Aliya tengah
bersiap-siap berangkat ke kampusnya yang berjarak 2km dari rumahnya. Ia
menyempatkan diri melihat kakaknya sebentar sebelum pergi.
“Selamat Pagi kakak..” sapanya pada Reza yang tengah berdiri
menghadap jendela.
“Pagi juga, Aliya. Kamu mau berangkat?”
“He’em. Kakak liat apa?” berdiri mensejajari kakaknya
menghadap jendela.
“ Pagi ini sangat cerah, Al. Kakak suka sekali melihat
jalanan itu.” Sambil menunjuk jalan raya yang dilalui anak-anak yang lalu
lalang berangkat sekolah.
“Ramai..” lanjutnya
“Kakak ingin keluar?” mendengar perkataan Aliya, Reza sontak
terkejut.
“Bolehkah?”
“Nanti malam di taman kota ada festival kembang api untuk
merayakan hari jadi kota kita. Aku ingin mengajak kakak keluar untuk makan ice
cream. Apa kakak mau?”
“Benarkah? Tentu saja aku amat sangat mau sekali.” Reza pun
langsung memeluk Aliya.
“Terima kasih, Al. Kakak sayang sekali sama kamu.”
“Aku juga.”
Aliya pun pamit berangkat ke kampus.
“Hai Al.” Sapa seorang pemuda di koridor kampus.
“Ah hai kak Sultan. Ngapain pagi-pagi udah nyampe kampus.
Biasanya kok baru jam 9 datang ke kampus.”
“Hah, kamu ngejek apa muji??”
“Hahaha, nggak dua-duanya. Eh, ada apa emang udah berangkat
kak?”
“Nggak ada apa-apa. Emang nggak boleh berangkat lebih pagi?”
“Ya boleh-boleh aja sih. Kayaknya nggak enak deh kalo ngobrol
sambil berdiri begini. Kita ke kantin aja yuk.”
Akhirnya mereka melanjutkan percakapan sambil berjalan menuju
kantin.
“Ya udah deh. Sekalian sarapan kalo gitu?”
“Jadi kesini pagi-pagi belum sarapan?”
“Belum. Hehehe, males sih. Di rumah ada orang nyebelin.”
“Orang nyebelin? Siapa kak?”
“Itu tuh, yang dulu pernah aku ceritain. Anak temen mama aku
yang suka sama sepupu aku si Indra.”
“Oh iya iya aku inget. Yang wajahnya kaya gadis jepang itu
kan?”
“Yah, sip. Nah itu anak kalo udah liburan ke sini pasti
nginep di rumah aku. Dan parahnya dia liburan ke sini itu 2 minggu. Huh,
sengsara deh hidup aku.”
“Hahaha, udah deh kak biasa aja. Jangan terlalu di pikirin.
Kan masih punya sahabat yang super duper setia ini.”
“Iya iya deh, percaya.”
Mereka pun sampai di kantin. Setelah memesan makanan mereka
pun kembali berbincang bincang. Tanpa Aliya sadari sejak tadi Sultan terus
memperhatikannya.
Al,
seandainya kamu tahu.. Selama 2 tahun terakhir kita bersahabat, aku sudah
memendam perasaan ini ke kamu. Sultan terus memperhatikan gadis
yang ada di hadapannya, sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Aliya sudah
berhenti bercerita dan kini menatap tajam ke arahnya.
“Kak Sultan? Hei hei!!” Aliya melambai-lambaikan tangannya di
depan wajah Sultan. Namun yang di ajak bicara tetap asik dengan imajinasinya
sendiri. Kesal di pandangi terus menerus akhirnya ia mencubit Sultan. Dan yang
di cubit langsung berteriak.
“Adawwwwwwwwwwwwwww.....”
Semua orang yang ada di kantin langsung melihat ke arah
mereka. Sultan yang tidak merasa bersalah membuat orang terganggu dengan
teriakannya itu menutupi malunya langsung kembali berteriak.
“Hei kalian.. ngapain liat-liat? Mata kalian baru ya?”
Mereka yang mendengar perkataan Sultan itu langsung
melanjutkan aktivitas masing-masing. Di kampus Sultan memang terkenal sebagai
pembuat onar, jadi tidak ada gunanya meladeni kata-kata Sultan itu. Namun
berbeda dengan Aliya, sahabat Sultan yang satu itu adalah kebalikannya Sultan. Aliya
di kampus di kenal gadis yang ramah, baik, pintar, anggun dan sholehah. Banyak
laki-laki yang menyatakan cinta sama dia, tapi banyak pula yang di tolak
(dengan cara halus). Alasannya sederhana, karena ia ingin fokus kuliah.
“Kak, udah deh nggak usah cari masalah. Kita kesini itu buat
makan, bukan buat cari masalah.”
“Eh, iya iya. Sorry deh. Tapi kenapa tadi aku di cubit? Sakit
tau.”
“Idih, lebay deh. Baru di cubit aja sakit. Tapi kalo
tonjok-tonjokan kok nggak sakit.”
“Itu sih beda, Al. Kalo itu cowok vs cowok, jadi harus
gentle. Kalo sama cewek aku harus yang lembut dong. Hahaha, ya dengan sedikit
lebay tadi.”
“Ngeles aja kaya bajaj.”
“Udah dulu ya kak, aku dah di tunggu temen-temen nih.” Aliya
pun bergegas kembali ke kelasnya.
“Ya, nanti pulang bareng ya, Al.....” Sultan berteriak pada
Aliya
“Siipp” Aliya dari jauh hanya mengangkat jempolnya ke atas.
0 komentar:
Posting Komentar